Thursday, September 21, 2006

Mentari Jingga


Aku duduk sendiri di sini
Coba ungkapkan rasa lewat ketukan tuts dan musik
Ditemani mentari senja dan langit jingga
Ku nikmati setiap tetes kerinduan yang menghampiri
Kerinduan akan kepastian yang mengambang
Seperti buih pada ombak, seperti awan di langit
Mereka iri pada kapal yang bersandar di pelabuhan
Pada tiang baja yang tertancap jauh ke dalam
Akankah mereka menemukan tempatnya yang pasti?

Tapi aku ingin tetap bisa menikmatinya
Seperti aku menikmati kopi hitam yang mendampingi dengan setia
Dibayangi deru mobil dan raungan mesin baja
Debu jalanan hinggap di wajah dan pakaianku
Mengingatkanku akan kerikil yang menempel di roda hidupku
Dan setiap lubang yang menganga di jalanku
Takut? Pasti!
Ragu? Jelas!

Saat mentari turun dan menghilangkan jingganya
Ruang dunia disinari cahaya lampu dan bulan
Kata bulan,”Kini aku yang berkuasa.”
Tapi ketidakpastian itu tetap mengintip di balik cahyanya
Karena esok mentari jingga akan kembali



No comments: